
Salam kepada para pembaca, dalam kesempatan yang baik ini, The Advisors kembali membagikan berita baik untuk kita semua. Kali ini pembahasan nya tentang ” NANTI DULU JANGAN SEKARANG” yes! Kalimat ini yang sering sekali dengan tidak sadar muncul dalam benak kita dan kita ucapkan saat ada seorang agent asuransi yang datang dan mencoba untuk menawarkan jasanya kepada kita.

Apakah keputusan untuk menunda membeli asuransi bagi diri kita adalah keputusan yang benar ? Tentu benar !!, “saya belum membutuhkan nya, masih banyak kebutuhan lain, prioritas utama saya adalah memiliki rumah , saya harus menabung untuk menikah, ah perusahaan saya kan sudah menyediakan asuransi karyawan, saya sudah punya BPJS !”

Notabene kita , akan menolak secara otomatis saat ditawarkan produk asuransi, apalagi jika berhubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan asuransi pendidikan. Padahal jika kita mau sedikit memahami penting nya asuransi dalam hidup kita , pasti kita semua tahu dan paham pentingnya memiliki asuransi dalam kehidupan kita.
Lalu kenapa kita secara otomatis menolak atau enggan membeli asuransi ? padahal kita menyadari dan paham tentang pentingnya perlindungan asuransi .
Cerita Dari Pengalaman Orang Lain
Dalam satu kesempatan pada saat saya masih menempuh jalur pendidikan , seorang dosen senior pernah membahas tentang, apa yang menjadi faktor penentu seseorang membeli kebutuhan jasa ? Menarik !! nomor satu yang muncul dalam slide dosen saya adalah : Cerita dari pengalaman orang lain. Kita semua paham bahwa kebutuhan jasa adalah kebutuhan yang tidak terlihat wujudnya, sama seperti asuransi, kita membeli asuransi yang kita pegang hanyalan sebuah buku polis, dan kita membayar mahal hanya untuk sebuah kontrak asuransi yang tercatat dalam sekumpulan kertas yang kita kenal dengan nama buku polis.
Kita tidak dapat melihat wujud dari jasa tersebut, tidak juga dapat menyentuh sesuatu yang kita bayar tiap bulan bahkan tiap tahun sampai masa pembayaran kontrak berakhir.
Yes! Kita seperti membakar uang untuk membeli sekumpulan kertas berisikan kontrak yang disebut polis. Terlalu mahal untuk sebuah kertas, terlalu mahal untuk sebuah kontrak, ada kebutuhan lain, yah.. smartphone baru, sepatu baru, tas baru, mobil baru , motor baru , salon kecantikan , perawatan wajah dan lain sebagainya , intinya ,” Terlalu mahal untuk sebuah kertas, tiap bulan , tiap tahun kita bayar, dipakai pun tidak , Nanti dulu jangan sekarang !!”

Manusia adalah makhluk sosial, kita hidup berdampingan dan pastinya kita akan berinteraksi dengan sesama, pada saat seseorang mengalami suatu pengalaman ,baik itu sebuah pengalaman yang baik atau pengalaman yang buruk tentunya ada kerinduan untuk berbagi cerita dengan sesama. Oleh sebab itu pengalaman dan cerita orang lain dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan kita untuk membeli suatu kebutuhan jasa.
Benarkah terlalu mahal untuk membeli sekumpulan kertas berisi kontrak asuransi yang disebut polis?

Saya akan bercerita tentang kisah dari gambar diatas , bayangkan jika kita menjadi kepala keluarga dalam gambar tersebut. Seorang kepala keluarga tentunya memiliki kewajiban untuk menyokong seluruh kebututuhan keluarga dari penghasilan yang diperoleh. Kita tahu bahwa kebutuhan akan terus meningkat, diimbangi dengan pendapatan yang diperoleh , kebutuhan juga akan meningkat seiring bertambahnya anggota keluarga, dan bertambahnya usia dalam anggota keluarga. Seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab akan mengupayakan untuk dapat terus memenuhi kebutuhan ini.
Sangat disayangkan faktanya bahwa semakin bertambah nya usia ,ditambah perubahan gaya hidup, maka kondisi kesehatan juga akan menurun. Kemudian sang kepala keluargapun akhirnya harus menghadapi risiko tutup usia, dan karena kepala keluarga ini adalah seorang yang bersosialisasi dengan banyak orang dan mendengarkan banyak cerita dari pengalaman teman – teman nya yang tidak memiliki asuransi dan menyesal membeli asuransi karena merasa tidak terpakai manfaat nya, maka kepala keluarga ini pun tidak memiliki asuransi apapun untuk dirinya.
Semua penghasilan nya dikelola untuk memenuhi kebutuhan keluarga, baik kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Karena peningkatan penghasilannya tegak lurus dengan peningkatan kebutuhan yang dipengaruhi oleh peningkatan gaya hidup si kepla keluarga dan keluarganya.

Saat terjadi risiko tutup usia dengan tidak memiliki asuransi apapun untuk dirinya maka kepala keluarga ini meninggalkan kewajiban finansialnya kepada sang istri tercinta. Mulai dari biaya kebutuhan bulanan rumah tangga , pendidikan anak , sampai dengan pembayaran cicilan, semua diserahkan kepada sang istri. Pertanyaan nya apakah saat serah terima tanggung jawab ini, sang istri dapat berkata ,” Nanti Dulu Jangan Sekarang!!!”
Sahabat, saat kita membeli kebutuhan jasa asuransi baik itu jiwa, kesehatan, pendidikan,kita tidak hanya membeli untuk diri kita tapi membeli untuk melindungi mereka yang kita cintai, dan percayalah kita tidak membayar terlalu mahal untuk sekumpulan kertas berisikan kontrak asuransi bila kita bandingkan dengan nilai penyusutan dari barang – barang mewah yang kita beli.
Mungkin salah satu teman kita berkata, ” Saya menyesal beli asuransi , karena saya tidak butuh, bayar buat sesuatu yang tidak saya pakai!” Itu karena mereka belum merasakan manfaatnya, namun saat risiko terjadi pada dirinya, saya pastikan akan ada keluarganya yang akan berterima kasih karena teman kita sudah memiliki asuransi.


Salam , The Advisors
